Mengisi waktu hidup bagaikan menulis di "My Diary"



By Dana Anwari. Sejarah hidup kita adalah yang kita catat dalam buku harian kita, My Diary. Sebagaimana Andre Hirata mencatat sejarah hidup masa kecilnya dalam novelnya berjudul Laskar Pelangi. Atau kisah pilu Anne Frank, success story pendiri Honda Motor dan dua pemuda perintis Google: Sergey Brin dan Larry Page, perjuangan usaha Bill Gates pendiri Microsoft, Steve Job dengan komputer Macintoshnya, otobiografi proklamator Indonesia Ir. Soekarno dan Moh. Hatta, dan sejarah hidup yang paling sempurna dari seorang bernama Muhammad: kemudian dikenal sebagai Nabi Muhammad saw.

Sejarah hidup kita adalah yang kita catat dalam rencana penulisan otobiografi kita. Kita malu menuliskan yang buruk-buruk tentang kita karena kita tidak ingin sejarah hidup kita penuh berisi keburukan dibandingakn kebaikan. Kalau begitu, mengapa kita tidak segera sadar: bahwa waktu hidup kita di dunia ini harus lebih banyak diisi dengan catatan kebaikan?

Adakah di antara kita yang ingin mencatat keburukan dalam buku harian kita? Tentu tidak!
Kalaupun yang kita catat dalam "My Diary" adalah catatan keburukan, semoga itu suatu khilaf dalam hidup kita, dan bukan dosa yang sengaja kita buat.

Bila ada salah karena khilaf dalam hidup kita, semoga Allah memaafkannya. Semoga kita dibantu-Nya untuk memperbaiki kesalahan yang diakibatkan kekhilafan kita sebagai manusia. Dengan begitu kita tidak malu menuliskan kekhilafan kita dalam "My Diary".
Mengapa? Karena kita akan menuliskan juga usaha kita untuk memperbaiki kesalahan yang sudah kita lakukan, bahkan juga menuliskan keberhasilan kita menghapus kesalahan dengan kebaikan.

Ingatlah firman Tuhan dalam Al Quran surat Asy Syuura ayat 25-26: Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan,dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras.

Hindarilah mencatat keburukan dalam "My Diary" yang disebabkan oleh tindakan keliru kita yang dilakukan dengan kesengajaan. Tuhan pun akan marah kepada kita. Misalnya kita berzina, padahal Allah jelas-jelas melarang perzinaan. Misalnya kita mengambil harta yang bukan menjadi hak kita, padahal Allah telah menjelaskan bahwa mengambil harta yang bukan hak kita akan merusak diri kita sendiri: menjadi penyakit dalam diri kita dan keluarga yang kita nafkahi serta membuat kita mengalami peristiwa hidup yang mewakili azab Allah di dunia ini.

Jadi sesungguhnya, kita sudah bisa mengukur diri kita sendiri. Bila kita malu menuliskan amal perbuatan kita di "My Diary" sesungguhnya perbuatan itu termasuk perbuatan yang mesti dihindari.
Bila kita malu mencatat perzinaan kita, maka tolaklah godaan berzina. Bukankah dengan begitu yang kita catat menjadi satu kebaikan dalam sejarah panjang hidup kita di "My Diary"?
Bila kita mampu menolak godaan uang suap, bukankah catatan kita di "My Diary" yang mestinya jelek menjadi baik?

Jangan hanya berpikir "My Diary" adalah rahasia hidup pribadi, dan tidak boleh orang lain tahu. Tapi, pernahkah anda berpikir, suatu ketika Allah membuka keburukan anda lewat suatu peristiwa hidup, lalu anda pontang-panting mengeluarkan alibi untuk tidak mengakuinya?
Maka, jalan terbaik adalah hindarilah perbuatan yang akan membuat catatan sejarah hidup kita penuh dengan keburukan. Apalagi keburukan yang menentang, bahkan menantang, kebenaran Tuhan. Bila begitu, bukan cuma manusia yang anda sakiti dengan keburukan anda yang akan marah, tapi "tiada Tuhan selain Allah" pun akan murka.
sukseswaktu.blogspot.com
*

No comments:

Islam - Selections from Encyclopaedia Britannica